Penyelamatan yang menakjubkan..

>> Friday, June 5, 2009



Salib adalah rencana Allah untuk melepaskan kita dari rasa bersalah dan dari hukuman yang diakibatkan oleh dosa masa lalumu..

Di kayu salib kita melihat dalamnya kebejatan kita dan tingginya kasih Allah yang mengherankan itu..

Kita melihat betapa intens dan mengerikannya murka Allah atas dosa dan betapa mencengangkannya rahmat dan kasih-Nya bagi orang-orang berdosa.

Mengapa salib?
Karena orang-orang berdosa tidak mempunyai harapan lainnya..

Mengapa salib?
Karena itu bukti yang tidak dapat diganggu-gugat tentang kenyataan bahwa kita dapat diampuni..



Mari kita bersama-sama memandang kepada salib. Jangan menganggap kamu sudah tahu atau sudah mengerti apa yang terjadi di kayu salib. Datanglah ke kayu salib seolah-olah ini yang pertama kalinya kamu datang. Biarkan kenyataan tentang salib mengguncang dan mengoyak hatimu yang terdalam..


"Wajah yang ingin dipandang Musa - tapi dilarang - penuh memar, sembab dan berlumur darah ( keluaran 33 : 19-20 ). Duri yang Allah kirim untuk mengutuk pemberontakan bumi sekarang menancap di sekeliling kening-Nya."

"Telentang kamu!!" Seorang serdadu mengangkat palu dan siap menghantamkannya untuk membenamkan paku besar itu. Jantung serdadu itu memang harus terus berdenyutsewaktu ia memposisikan pergelangan tangan tahanan itu. Pasti ada yang menopang kehidupan serdadu itu menit demi menit, karena tidak ada orang yang dari dirinya sendiri mempunyai kekuatan seperti itu. Siapa yang memberi nafas ke paru-parunya? Siapa yang memberi energi ke sel-selnya? Siapa yang mempersatukan molekul-molekulnya? Hanya oleh DIa " maka segala sesuatu berada pada tempatnya masing-masing " (Kolose 1: 17, BIS ). Sang KORBAN menghendaki serdadu itu hidup - Ia menginginkan serdadu itu tetap hidup. Serdadu itu mengayunkan lengannya.



Ketika serdadu itu mengayunkan lengannya, Dia ingat bagaimana Dia dan Bapa mula-mula merancang saraf-saraf di lengan bawah manusia - memungkinkannya dapat merasa. Rancangan itu sempurna - saraf-saraf itu berfungsi dengan baik. " Tegakkan!! " Mereka menegakkan salib itu. Allah menjadi tontonan dan napas-Nya tersengal-sengal.

Tetapi rasa nyeri ini baru permulaan dari sesuatu yang lebih mengerikan lagi. Ia mulai merasakan sesuatu yang asing bagin-Nya. Bau busuk yang menjijikkan mulai meruak, bukan ke hidung-Nya, tetapi menusuk ke dalam lubuk hati-Nya. Ia merasa kotor. Kekejian manusia - kotoran dari dalam jiwa manusia - merayap ke dalam diri-Nya yang tidak bercela. Biji mata Bapa menjadi timbunan kebusukan.

Bapa-Nya!!! Ia harus berhadapan dengan Bap-Nya dalam keadaan seperti ini !!

Di Surga, Sang Bapa bangkit bak seekor singa yang diganggu; Ia mengguncang-guncang bulu tengkuk-Nya, dan mengaum, menentang tubuh kisut yang terpantek di salib. Tidak pernah Sang Anak melihat Sang Bapa menatap-Nya seperti itu, belum pernah dirasakan-Nya sedikitpun napas panas Sang Bapa yang seperti itu. Tapi auman yang membahana itu tak ayal lagi mengguncang dunia yang tak terlihat dan membuat langit yang kasat mata menjadi gelap gulita. Sang Anak tidak mengenal tatapan mata semacam itu.

"Anak Manusia! Mengapa berkelakuan seperti itu? Kamu menipu, mengumbar hawa nafsu, mencuri, bergosip - membunuh, iri hati, membenci, berbohong.Kamu mengutuk, merampok, menghambur-hambur, rakus - berzinah, tidak taat, menggelapkan uang, dan menghujat. Oh, ada tugas yang kamu hindari, kamu meninggalkan anak-anakmu! Siapa yang bersikap masa bodoh terhadap orang miskin, bertindak pengecut, meremehkan nama-Ku? Sudahkah kamu mengekang lidahmu yang tajam itu? Pemabuk yang merasa diri sendiri selalu benar - kamu yang melakukan pelecehan seksual kepada bocah laki-laki, yang berjual beli narkoba, yang bergerombol, dan menghina orang tuamu. Siapa yang memberimu keberanian untuk bersikap curang dalam pemilu, menyulut revolusi, menyiksa binatang, dan menyembah roh-roh jahat? Daftar ini tak berujung!"

"Keluarga yang berantakan, perkosaan, arogansi, germo - menyogok, politik busuk, memeras, memproduksi film pornografi, menerima suap. Kamu membakar gedung-gedung, menyempurnakan takti teroris, mendirikan agama palsu, berjual -beli budak, menikmati setiap perbuatan itu, lagipula membanggakannya. Aku membenci hal-hal itu dalam dirimu! Kejijikan keadaanmu membuat Aku muak! Tidakkah kamu dapat merasakan murka-Ku?"




Tentu saja Sang Anak tidak bersalah atas semuanya itu. Diri-Nya sendiri tidak bercela, tidak berdosa. Sang Bapa tahu hal itu. Tetapi Bapa dan Anak telah membuat persetujuan. Dan sekarang hal-hal yang tidak terpikirkan harus terjadi. Yesus akan diperlakukan seakan-akan Dialah yang bertanggung jawab atas setiap dosa yang pernah dan akan dilakukan oleh semua orang.

Bapa menatap selagi Buah Hati-Nya - cerminan citra diri-Nya sendiri - tenggelam dalam lautan dosa. Murka Yehuwa yang tersimpan sejak dulu terhadap umat manusia dari segala abad tertumpah ke satu jurusan.

"Bapa!! Bapa!! Mengapa Engkau meninggalkan Aku?!"

Tetapi langit menutup telinga. Sang Anak menatap kepada Dia yang tidak dapat dan yang tidak mau turun menolong-Nya, dan tidak pula dia menjawab.

Tritunggal sudah merencanakannya. Sang Anak menanggungnya. Roh memampukan-Nya. Bapa menolak Anak yang dikasihi-Nya. Yesus, Manusia-Allah dari Nazaret, mengalami kematian. Bapa menerima Kurban-Nya untuk penebusan dosa manusia, lalu redalah murka-Nya. Penyelamatan sudah dilaksanakan.

Selagi kita menatap pada Salib, kita dapat berkata kepada diri sendiri, dua hal ini sekaligus, "Aku yang melakukannya; dosa-dosakulah yang membuat Dia disalibkan," dan "Dialah yang melakukannya; Kasih-Nya membawa Dia ke kayu Salib."



Apakah kamu melihat pelanggaranmu sendiri pada daftar dosa yang menuntut pentingnya Salib? Bila tidak, sebutkanlah sendiri pelanggaranmu. Sebutkan dosamu yang paling hitam. Sekarang renungkan fakta bahwa Kristus sudah menanggung hukuman dosa itu. Pada diri-Nya sendiri, Ia menimpakan hukuman yang seharusnya kamu tanggung. Apakah kamu merasakan Kasih-Nya yang murni dan khusus itu bagimu? Ia mati bagimu. Ia dihukum dan dikutuk supaya kamu dapat dibebaskan dari hukuman -- Ia ditinggal Allah supaya kamu tidak pernah ditinggalkan ( Ibrani 13 :5 ).


-- Royanto EL05

6 comments:

Theresia Hutapea June 5, 2009 12:52 PM  

dek tulisan2 yg merhema dibold ato dwarnain dungs, biar mnarik
*kacamata seorang anak SR =D

Theresia Hutapea June 5, 2009 12:56 PM  

btw...banyak masa dalam hidupku ktika aku mrasa down, putus asa, mnangis dlm harapan yang trtunda...dan aku hanya perlu mmandang salibnya,mngimajinasikannya, dan mnyadari sbesar itulah kasih Dia buat aku...
dan smua pikiran ga penting itu hilang. Kalau nyawaNya saja Dia berikan,maka apa sih yg aku butuhkan yg ga akan Dia penuhi? How great is my GOD!!!

Yohanes June 5, 2009 12:59 PM  

yah. seharusnya roy nya yang bold-bold in nih. tapi yo wis lah, aku aja yang bold-bold in. jadi ini yang me-rhema versi aku ya :D

anw, aku kurang suka dengan post yang tulisannya warna-warni. aku lebih suka yang monochromatic :p cukup gambarnya aja yang warna-warni.

*kacamata seorang anak Tuhan, anak orangtua nya, yang -sesuai rencana Tuhan- lulus dari IF :p

Theresia Hutapea June 5, 2009 2:10 PM  

ya udh trserah ><

Yohanes June 5, 2009 2:19 PM  

hehehe :D

Royanto June 26, 2009 12:54 AM  

How beautiful is the body of Christ..

Post a Comment

  © Blogger template Sunset by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP