All-new Youth Oath: All-out Holiness

>> Monday, November 2, 2009

Oleh: Bang Henry Panggabean



Bangsa ini sedang membutuhkan sekelompok orang muda yang berani mendeklarasikan “sumpah pemuda” dengan spirit baru, yaitu spirit kekudusan yang dari Tuhan. Dosa sudah menjadi begitu disenangi bahkan dihargai dalam kehidupan hari ini. Gereja, sengaja atau tidak, telah menjadi begitu permisif atau apatis dengan pelbagai serbuan setan terhadap generasi muda: narkoba, pornografi, dugem, free-sex, aborsi, dll. Belum tampak serangan balik yang berarti dari pihak gereja untuk menebus kekalahan dan merebut kembali jutaan tawanan. Padahal Yesus berkata: “Pintu gerbang alam maut takkan dapat bertahan menghadapi jemaat-Ku”. Terus dicari: gereja yang ofensif, who dares to declare war against the heavenlies.

Isu kekudusan sudah usang, bahkan di dalam tembok gereja sekalipun. “Jangan serupa dengan dunia ini”, “apa yang dikagumi manusia dibenci oleh Allah”, “jika aku masih mencoba berkenan kepada manusia, aku bukanlah hamba Kristus”, “kuduskanlah dirimu untuk menjadi perabot yang mulia dalam rumah Tuhan”, dan pesan-pesan khotbah sejenis menjadi tak populer. Janji berkat, pikiran positif, khotbah kekeluargaan, dan market-oriented message lebih disukai oleh telinga.
Ikrar kekudusan amat mendesak untuk diproklamirkan kembali oleh generasi muda gereja, karena “tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan”. Generasi ini membutuhkan lawatan Tuhan yang baru, dan hanya orang-orang muda yang strive for holiness yang dapat “menariknya turun.” Percayalah, Tuhan lebih dari siap untuk mencurahkan lawatan-Nya.

Dibutuhkan hati seperti ketiga triwira Daud. Hati yang tak mengikuti keputusan orang banyak untuk mundur dari perjuangan, determinasi tinggi untuk menjaga komitmen moral dengan segenap kekuatan, kerinduan yang dalam untuk perkara besar dari Tuhan terjadi melalui hidupnya, dan kerelaan untuk dipakai sebagai pintu masuk bagi kemenangan besar dari Tuhan, dengan segala harganya.
Prinsip perang Yonatan dan Gideon tetap berlaku: “tidak harus dengan jumlah yang banyak”. Tuhan tidak menemukan kesulitan andai pun hanya tersedia sedikit orang, bahkan, pada kasus terburuk mungkin hanya ada 1 orang. God sought and still seeks A MAN!


Mendahului setiap deklarasi “sumpah” di depan umum, harus terjadi pengorbanan yang tak henti di mezbah “sumpah” pribadi dalam prayer closet setiap pagi. Pengampunan Tuhan memang cuma-cuma (darah Kristus telah membayarnya sekali untuk selamanya), namun api Tuhan selalu menuntut harga tanpa diskon. Abraham membayarnya dengan Ishak, Elia membayarnya dengan air yang langka, Daud membayarnya dengan segenap jiwanya, Salomo membayarnya dengan ribuan hewan kurban, Yesus membayarnya dengan “bukan kehendak-Ku tetapi kehendak-Mu” dalam doa pagi-pagi benar, Paulus membayarnya dengan nyawanya.
Bangsa yang sedang go-insane towards hell ini menantikan bangkitnya satu generasi yang go-insane for Jesus. Publikasi terbuka pekerjaan setan lewat berbagai media sudah saatnya dilawan dengan demonstrasi terbuka dari kuasa Roh Kudus, yang hanya dapat lahir dari doa-doa orang-orang kudus yang tekun dan sehati, seperti pada hari-hari pra-Pentakosta. 



Untuk mencetak generasi “anak panah di tangan pahlawan”, orang muda gereja hari ini perlu dibesarkan dalam lingkungan “penuh pekik perang”. Mereka harus terbiasa memulai pertempuran, tidak gentar dengan perlawanan musuh, terlatih menggunakan senjata rohani, serta siap berkeringat-berdarah bagi Yesus. Harus disadari, kelompok PA kita adalah “sebidang tanah penuh kacang merah” yang harus dipertahankan mati-matian. Setan sangat menginginkan dan berupaya sekuat tenaga agar kita gagal dalam perkara ini.
Seperti pemazmur berkata: “It is time for the Lord to act; they have frustrated Your law.” (Psalm 119:126), inilah waktu terbaik untuk orang-orang muda yang mengenal Allahnya bertindak dan memulai perangnya Tuhan untuk melepaskan bangsa ini dari belenggu penjajahan setan dengan segala manifestasi dosa. Terngiang nyanyian Debora: “My heart goes out to the commanders of Israel who offered themselves willingly among the people”. So, let us declare war against unholiness!

0 comments:

Post a Comment

  © Blogger template Sunset by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP